|
Beberapa tahun lalu kita dibangunkan oleh Goleman dengan pernyataannya mengenai kecerdasan emosi. Ia mengatakan bahwa ukuran mutu manusia adalah keseimbangan otak dan hati. Ia telah membuktikan hal atersebut melalui penelitiannya di Amerika Serikat tentang peran perasaan dan keandalan mengendalikannya sebagai modal hidup sukses personal. Selain itu penelitian yang ia lakukan tersebut juga menegaskan bahwa dunia yang dewasa ini dikuasai oleh kemajuan teknologi mutakhir, makin membuat hubungan antar manusia menjadi rumit. Kerumitan ini menciptakan stress dan kekerasan-kekerasan yang kadang-kadang disebabkan oleh hal-hal yang sepele dan aneh. Tampaknya globalisasi dan kemajuan teknologi yang hebat ini harus dibayar mahal dengan ketumpulan atau kedunguan perasaan personal. Orang menjadi cepat marah, individualistic, serba tergesa-gesa dan tidak tumakninah. Manusia menjadi sem,akin tidak peka dan tidak mampu mendengarkan dan berempati terhadap perasaan sendiri, apalagi orang lain. Emosi, satu asset individu yang menurut Goleman akan makin berperan pada kehidupan mendatang, menjadi rusak. Rasanya manusia menjadi tuli dengan perasaan dan emosi sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memperbaikinya? Menurut saya, salah satu jawabannya adalah melalui SENI.
SENI SEBAGAI EKSPRESI EMOSI
Seni adalah suatu aktivitas yang lebih banyak melibatkan rasa atau emosi Seni merupakan ekspresi emosi yang paling bebas dari kehidupan bermasayarakat dan pribadi. Secara psikologis, olah rasa atau seni adalah katarsis mental, yaitu suatu proses pembersihan system energy yang terkurung karena pengendalian. Esensi dari katarsis mental itu sendiri sebenarnya adalah mengekspresikan emosi, dorongan atau kebutuhan untuk mendapatkan sikap dan pandangan yang menyeluruh. Jika seseorang mendapatkan kesempatan untuk katarsis atau mengungkapkan segala kata hati dan perasan-perasaannya maka ia akan merasakan suatu kelegaan atau perasaan tanpa beban. Kondisi semacam ini secara emosional akan membuat seseorang menjadi lebih santai dan lebih bebas untuk mengekspresikan ide, pendapat maupun keinginan-keinginannya. Dengan kondisi tanpa tekanan seperti ini seseorang akan lebih mampu berfikir secara objektif. Melalui katarsis biasanya seseorang akan mendapatkan suatu yang lebih kaya dan berarti.
AKTIVITAS DAN BENTUK EKSPRESI EMOSI Emosi diekspresikan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Dalam aktivitas kesenian, ekspresi verbal biasanya dilakukan dengan menulis, berbicara tentang emosi yang dialami, olah vocal dan lainnya. Adapun ekspresi nonverbal bisa dilakukan dengan menggambar, gerak dan isyarat tubuh, dan tindakan-tindakan emosional lainnya yang menggunakan dengan menggunanakn instrument tertentu (bermusik dll).
a. Gambar Menggambar merupakan aktivitas yang didukung oleh proses kognitif, persepsual dan psikomotorik. Menggambar merupakan salah satu cara mengekspresikan diri. Ekspresi kemarahan atau agresi misalnya, dapat dituangkan dalam gambar tanpa konsekuensi merusak lingkungan fisik. Bahkan adakalanya ia menjadi alat komunikasi yang efektif. Disamping itu menggambar juga merupakan pengenalan dan penuangan ide maupun emosi secara konkret dari yang biasanya bersifat abstrak ke dalam symbol-simbol tertentu. Dan symbol-simbol ini seringkali digunakan sebagai fantasi. Oleh karenanya, melalui gambar, seseorang dapat membaca emosi dan menangkap ide yang diungkan oleh orang lain. Gambar berfungsi sebagai alaat bantu mengembangkan imajinasi. Dalam kehiduan social, imajinasi ini penating untuk empati. SEdangkan dalam kehidupan intelektual dan kehidupan sehari-hari imajinasi penting untuk melakukan antisipasi dan perencanaan.
b. Sastra. Bentuk lain untuk mengekspresikan dan mempelajari serta memahami emosi adalah dengan menulis dan membaca indah. Melalui aktivitas ini seseorang dilatih untuk menyuarakan kata hati, keinginan maupun perasaan-perasaannya. Tulisan yang komunikatif, dibuat berdasarkan proses pengamatan yang seksama atas berbagai peristiwa yang menarik di sekitar. Dengan menulis seseroang akan dibiasakan dan bersahabat dan berkomunikasi dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Sedangkan dengan membaca (mendongeng dll), seseorang dilatih untuk peka terhadap perasaan orang lain yang dituangkan dalam tulisan. Dengan membaca tulisan seseorang terlatih untuk mampu memperdengarkan dan membayangkan pesan yang disampaikan.
c. Seni Suara/Olah vocal/Bernyanyi Bagi sebagian orang, mengungkapkan emosi dan kata hati secara terbuka tidaklah mudah. Adakalanya untuk menyampaikan suasana hati seseorang berlindung pada suatu aktivitas . Salah satu aktivitas yang paling populer di kebanyakan orang untuk mewakili suara batinnya adalah bernyanyi. Bernyanyi merupakan salah satu bentuk katarsis fisik. Dalam katarsis ini, seseorang menggunakan seluruh energy yang dihasilkan oleh perubahan fisik yang menyertai emosi, yang karenanya menimbulkan suatu kelegaan bagi energy serta memulihkan keseimbangan. Beberapa penelitian yang dilansir oleh The Telegraph, mengungkap bahwa bernyanyi bisa menyebabkan seseorang terbebas dari stres dan depresi yang berlebihan .
d. Seni Musik Sejatinya music adalah ritme bunyi yang harmonis . Musik merupakan alternatif sarana katarsis bagi seseorang. Di dalam musik terdapat melodi, dinamika , suara keras lembut, irama cepat lambat atau elemen-elemen lain. Memainkan alat music merupakan alternative katarsis bagi seseorang. Dengan music ia dapat mengatur irama sesuai dengan mood yang dimilikinya. Dengan bermain music seseorang terlaltih mengelola dan mengendalikan emosi secara ritmis. Adapun yang terkandung dalam mendengarkan ritme music adalah kepekaan mengenali perasaan. Kadang-kadang musik dapat menggugah semangat, menggairahkan, menghilangkan ketegangan atau bahkan untuk sementara dapat memberikan suasana tentram . Musik memang merupakan alat bantu untuk mengekspresikan kata hati. e. Ritme dan Gerak Bergerak merupakan media untuk mengekspresikan pembebasan dari sesuatu yang tidak enak. Gerak merupakan simbolisasi, displacement maupun katarsis. Bahkan secara ritual, gerak merupakan suatu sarana mengekspresikan dan mengalihkan ketakutan, kesedihan, kemarahan, kenikmatan, permohonan maupun ampunan. Terutama anak-anak, sangat menyukai gerak. Bila gerakan diatur, anak sering mengundurkan diri, takut membuat kesalahan. Aktivitas ritme dan gerak ini dapat berupa permainan, tarian, akrobatik maupun pantomim atau operet. Melalui kegiatan ini seseorang berlatih mengembangkan imajinasi untuk membuat suatu harmoni antara ritme dan gerak, sebuah presentasi dari emosi yang dimiliki.
f. Seni Peran Secara psikologis bermain peran mempunyai fungsi terapis yang tidak kecil artinya. Banyak kasus dipecahkan melalui bermain peran. Melalui bermain peran seseorang akan menjadi paham dan mengerti sesuatu dan atau orang lain. Ketika seorang seorang pekerja pabrik bermain peran sebagi manajer, ia dapat memahami bahwa menjadi majikan memang tidak mudah yang karenanya kadang-kadang harus pelit dan berkuasa. Bermain peran merupakan media ekspresi emosi yang paling kompleks. Dalam bermain peran banyak imajinasi yang harus dikembangkan, yaitu imajinasi rasa, peran itu sendiri maupun hal-hal lain yang mendukung peran yang dimainkan.
PENUTUP Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa seni memiliki nilai edukasi dan manfaat yang banyak bagi kehidupan. Dengan seni orang lebih bebas mengekspresikan diri, mengenali dan memahami emosi. Melalui seni orang akan belajar empati dan menempatkan diri. Secara psikologis seni merupakan teknik proyeksi yang enak dilakukan, sehingga ketika seseorang ingin mengungkapkan perasaan, sikap dan kepribadiannya ia tidak perlu takut dan canggung karena senimerupakan media yang sah digunakan oleh siapa saja yang ingin berbagi. KEberanian berbagi ini merupakan indikasi adanya sikap peduli terhadap orang lain. Dan sikap seperti inimerupakan salah satu modal untuk berperilaku serba pas secara social. Sedangkan kemampuan berperilaku pas secara social ini merupakan kemampuan bergaul yang baik, salah satu ciri dari dimilikinya kecerdasan emosi.
Mari ekspresikan diri !
Pustaka : Sukadji, S. 1986. Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan. Urusan produksi dan distribusi alat tes. Fakultas Psikologi Univ. Indonesia, Jakarta.
|