|
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu seiring dengan peningkatan usia harapan hidup. Pada tahun 2020, diprediksi akan ada 29 juta orang lanjut usia. Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia ini secara tidak langsung juga menunjukkan meningkatnya jumlah pensiunan. Pensiunan adalah seseorang yang (biasanya) karena usia, telah berhenti bekerja dari suatu pekerjaan yang biasa dilakukakan selama puluhan tahun, seseorang yang tidak lagi melakukan aktivitas produktif secara rutin dan digaji. Perubahan kondisi demikian akan memutuskan seseorang dari aktivitas rutin yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, akan memutuskan jaringan sosial yang sudah terbina dengan rekan kerja, dan yang terutaman adalah menghilangnya identitas diri seseorang yang sudah melekat begitu lama sebagai karyawan X dll.
Oleh karenanya, tidak setiap individu siap menjadi seorang pensiunan. Ketidak–siapan ini umumnya karena menganggap dirinya sebagai pengangguran, sehingga menimbulkan perasaan-perasaan negative seperti minder, malu, tidak bergunan, tidak dikehendaki, dilupakan, tersisihkan, tidak memiliki tempat berpijak dll. Dengan demikian, perubahan yang diakibatkan oleh masa pensiun ini memerlukan penyesuaian diri. Orang-orang yang mengalami masalah penyesuaian diri dengan pensiun ini disebut memiliki Post Power Syndrom (PPS). Secara umum gejala Post Power Sindrome meliputi :
- Gejala fisik, misalnya menjadi jauh lebih cepat tua tampaknya dibandingkan waktu dia menjabat. Rambutnya menjadi putih semua, berkeriput, dan menjadi pemurung, sakit-sakitan, tubuhnya menjadi lemah.
- Gejala emosi, misalnya cepat tersinggung kemudian merasa tidak berharga, ingin menarik diri dari lingkungan pergaulan, ingin bersembunyi dsb.
- Gejala perilaku, misalnya malu bertemu orang lain, lebih mudah melakukan pola-pola kekerasan atau menunjukkan kemarahan baik di rumah atau di tempat yang lain.
Adapun mereka yang rentan menderita post power sindrome adalah: - Orang-orang yang senangnya dihargai dan dihormati orang lain, yang permintaannya selalu dituruti, yang suka dilayani orang lain.
- Orang-orang yang membutuhkan pengakuan dari orang lain karena kurangnya harga diri, jadi kalau ada jabatan dia merasa lebih diakui oleh orang lain.
- Orang-orang yang menaruh arti hidupnya pada prestise jabatan dan pada kemampuan untuk mengatur hidup orang lain, untuk berkuasa terhadap orang lain. Istilahnya orang yang menganggap kekuasaan itu segala-galanya atau merupakan hal yang sangat berarti dalam hidupnya.
Antara pria dan wanita, pria lebih rentan terhadap post power sindrome karena pada wanita umumnya lebih menghargai relasi dari pada prestise, sedangkan pada pria prestise dan kekuasaan jauh lebih dihargai .
Dalam pandangan Psikologi Perkembangan, sejatinya pensiun adalah suatu masa transisi ke pola hidup baru, ataupun merupakan akhir pola hidup (Schawrz dalam Hurlock, 1983). Transisi ini meliputi
perubahan peran dalam lingkungan sosial, perubahan minat, nilai dan perubahan dalam segenap aspek kehidupan seseorang. Oleh karenanya, pensiun tidak hanya dialami oleh mereka yang bekerja formal, namun ia bisa saja mengenai individu siapapun. Ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Ericson mengenai Perkembangan Psikososial Individu. Ia menggambarkan perkembangan psikososial seseorang dalam delapan tahapan; infancy, early childhood, play age, school age, adolescence, young adulthood, adulthood dan old age. Dan pensiun adalah masa tua. Sebagaimana masa yang lain, masa ini bisa menjadi masa yang menyenangkan atau sebaliknya menyedihkan . Kekuatan di masa ini adalah wisdom (kebijaksanaan) yang oleh Erikson digambarkan sebagai kondisi kaya akan pemahaman dan obyektif terhadap kehidupan dalam menghadapi akhir dari kehidupan itu sendiri. Kondisi seperti ini banyak berkaitan dengan kematangan emosi, dan dukungan social yang meliputi dukungan keluarga, teman maupun lingkungan atau lebih khusus lagi komunitas. Dukungan sosial dapat menimbulkan pengaruh positif, seperti dapat mengurangi kecemasan dan memelihara kondisi psikologis yang berada dalam tekanan. Dukungan sosial bagi individu yang akan memasuki masa pensiun merupakan hal yang penting, karena individu tersebut merasa dicintai, diperhatikan dan merasa tidak sendirian dalam menghadapi masa pensiun, masa pergantian peran. Dengan demikian untuk mengatasi post power syndrome terdapat beberapa tindakan preventif yang bisa dilakukan, yaitu : - Menyadari bahwa segala sesuatu tidak ada yang abadi. Pensiun adalah proses yang mesti terjadi. Pensiun adalah salah satu fase dalam perkembangan hidup, ia adalah siklus waktu yang sejatinya adalah alih fungsi peran semata.
- Menyadari bahwa kekuasaan, kepemilikan ada masanya. Ia tidak bersifat permanen. Karenanya harus menyiapkan diri untuk suatu ketika kuasa dan kepemilikan itu lepas dari diri kita dan menjadi giliran generasi berikutnya.
- Selalu berpikiran positif, selalu mengambil hikmah, bersyukur, dan selalu mengikutsertakan Tuhan dalam setiap kehidupan . Dengan berpikiran positif kita akan menarik energi positif ke kehidupan kita sehingga menjadi tingkah laku yang positif.
- Rencanakan pensiun beberapa bulan atau beberapa tahun sebelumnya dengan pikiran yang jernih dan tenang.
- Menjalin relasi untuk sebuah komunitas guna melakukan aktivitas sosial yang menarik dan mulailah meniti karir di kehidupan pasca-pensiun disertai optimisme bahwa hidup akan menjadi jauh lebih baik lagi dari sebelumnya
- Meningkatkan aktivitas yang dapat lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Berdoa, meditasi, dan lainnya yang akan membuat hidup terasa lebih damai dan tenang.
Selamat Menempuh Hidup Baru !
|