Spiritualitas Usia Lanjut PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Dra. Niken Iriani LNH,Msi,Psi   
Kamis, 08 Oktober 2009 03:01

Selama proses menuju lanjut usia, individu akan banyak mengalami berbagai kejadian hidup yang penting (important life event) yang sering dipandang sebagai sesuatu yang negatif, antara lain klimaterium, menopouse-andropouse, sangkar kosong (empty nest), berbagai kemunduran fisik, pensiun dan kejadian hidup lainnya yang dapat menyebabkan pemikiran yang negatif. Menurut Hardywinoto dan Setiabudi (1999), pada lanjut usia akan terjadi kehilangan ganda (triple loss) sekaligus yaitu kehilangan peran, hambatan kontak sosial dan berkurangnya komitmen.

Perubahan-perubahan tersebut menimbulkan persoalan pada diri lanjut usia. Oleh karena itu para lanjut usia perlu memahami dan mengerti akan berbagai informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan bagaimana menyikapinya sehingga dapat menikmati hari-harinya dengan penuh kebahagiaan sampai akhir hayatnya yaitu dengan khusnul khotimah.

Menurut Hakim, S.N ( 2003 ) secara fisik lanjut usia pasti mengalami penurunan, tetapi pada aktivitas yang berkaitan dengan agama justru  mengalami peningkatan, artinya perhatian mereka terhadap agama semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya usia .  Lanjut usia lebih percaya bahwa agama dapat memberikan jalan bagi pemecahan masalah kehidupan, agama juga berfungsi sebagai pembimbing dalam kehidupannya, menentramkan batinnya.  Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh ahli psikologi dan psikiatri C.G. Jung yang menganggap bahwa agama adalah sarana yang ampuh dan obat yang manjur untuk menyembuhkan manusia dari penyakit neurosis, dan penyakit neurosis yang diderita oleh orang yang berusia sudah 45 tahun keatas adalah berkaitan dengan soal kematian, menyangkut arti dan makna kehidupan (Syukur, 1990).

Kebutuhan spiritual (keagamaan) dapat memberikan ketenangan batiniah. Rasulullah bersabda “semua penyakit ada obatnya kecuali penyakit tua”. Sehingga religiusitas atau penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun kesehatan mental, hal ini ditunjukan dengan  penelitian yang dilakukan oleh Hawari (1997), bahwa :

1.Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar daripada orang yang religius.

2.Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat dibandingkan yang non religius.

3.Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi.

4.Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres daripada yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih kecil.

5.Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat terakhir (kematian) daripada yang nonreligius.

 Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya hubungan positif antara agama dan keadaan psikologis lanjut usia, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Koenig, Goerge dan Segler (1988 dalam Papalia & Olds, 1995) yang menunjukkan bahwa strategi menghadapi masalah  yang tersering dilakukan oleh 100 responden berusia 55th – 80th  tahun terhadap peristiwa yang paling menimbulkan stres adalah  berhubungan dengan agama dan kegiatan religius (Saadah, 2003).

     Dengan demikian, keintensifan pada kehidupan agama pada lanjut usia tidak hanya mempunyai sisi nilai positif pada aspek kejiwaannya saja, tetapi memiliki sisi positif pada aspek fisik dan sosialnya. Koenig (Schumaker, 1992) mengemukakan bahwa dari penelitiannya menunjukkan bahwa lanjut usia yang berminat pada keyakinan agama dan melaksanakan berbagai ritual yang ada dalam keyakinan beragamanya, memiliki proporsi yang berarti dalam menghadapi suatu masalah (cope) dengan lingkungannya, hubungan interpersonal dan stres yang diakibatkan oleh kesehatan fisik. Coping agama juga terkait erat dengan penyesuaian diri yang baik pada lanjut usia (Hadisuprapto dalam Nurina Hakim, 2003).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kehidupan spiritual pada lanjut usia dapat memberi ketenangan batiniah, dimana spiritualitas berpengaruh besar pada kesehatan fisik dan kesehatan mental sehingga seorang lanjut usia mampu mengatasi perubahan atau stres yang terjadi dalam hidupnya dan dalam menghadapi kematiannya. Dengan  spiritualitasnya  lanjut usia lebih dapat menerima segala perubahan yang terjadi dalam dirinya dengan pasrah kepada Allah SWT, yang tercermin melalui kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan dalam menghadapi suatu masalah (coping) dengan lingkungannya.

Adapun gambaran tentang cirri-ciri spiritualitas keagamaan lanjut usia  menurut James (Jalaluddin, 1997), adalah sebagai berikut :

a.Kehidupan keagamaan sudah mencapai tingkat kemantapan.

b.Kecenderungan menerima pendapat keagamaan meningkat.

c.Mulai muncul pengalaman terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara sungguh-sungguh.

d.Sikap cenderung mengarah pada kebutuhan saling mencintai dengan sesama serta sifat-sifat luhur lainnya.

e.Muncul rasa takut pada kematian yang meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.

f.Ciri ke enam berdampak pada meningkatnya pembentukan sikap keberagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi di akhirat.

 (0leh : Aprilya Dewi Kartika Sari, S.Psi ; Dra. Niken Iriani  LNH, MSi, Psi)

Sumber Pustaka :
Hakim, Nurina S.Psi., M.Si., 2003. Lanjut Usia dan Kecerdasan Ruhani : Menuju Individu yang Khusnul Khotimah. Buku Kenangan Assosiasi Psikologi Islam (API) 1, 10-12 Oktober 2003. Solo

Hardywinoto, Dr., SKM., dan Dr. Tony Setiabudhi, Ph.D.. 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

Hawari, Dr Dadang. 1997. Al Qur’an Ilmu Keedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta. Dana Bakti Prima Yasa

Jalaludin, Prof. Dr. H. 2001. Psikologi Agama. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.
Syukur, Dr. Nico. 1990. Pengalaman dan Motivasi Beragama. Yogyakarta. Kanisius
 

 
Rumah-optima
School Joomla Templates and Joomla Tutorials