|
Banyak orang tua mulai tumbuh kesadaran akan pentingnya “bersekolah” dan sadar akan arti “sekolah”. Bahkan tampaknya sekarang ini mengenyam pendidikan yang baik bukan lagi sebagai suatu pilihan, tetapi sebagai suatu kebutuhan. Ini karena, pendidikan membuka peluang karier dan social serta meningkatkan kesempatan untuk menjalani hidup bahagia dan produktif . Akan tetapi tidak jarang ada pula alasan lain untuk menyekolahkan anak yakni ingin menyerahkan beban pendidikan / tugas pendidikan ke sekolah (dan para pendidik) – entah karena memahami adanya “nilai lebih ” di sekolah, atau karena frustrasi, sulit mengarahkan anaknya sendiri di rumah (jadi biar tidak pusing-pusing, anaknya di sekolahkan). Banyak orang tua mencari sekolah plus, untuk bisa mengatasi “kekurangan” yang ada di rumah atau di dalam pola asuhnya terhadap anak. Namun, sayang, setelah memasukkan anaknya ke sekolah “plus”, terkadang kemudian lupa, tidak mempelajari dan mengambil “nilai plus-nya” untuk diterapkan di rumah. Akibatnya, di rumah tetap minus dan “plus”-nya tertinggal di sekolah. Di satu sisi, tidak sedikit kita jumpai banyak pula anak yang belum belajar dengan baik di sekolah, sebagaimana keinginan orang tua mereka ( malas mengerjakan tugas sekolah, sulit memahami dan mengingat pelajaran, sering ditegur guru karena terlalu banyak cakap dll) akhirnya pendidikan formal tidak bisa menjamin keberhasilan hidup anak . Apa yang bisa dilakukan orang tua ?
Dari beberapa kasus yang saya jumpai, kesulitan yang dialami anak pada waktu sekolah, secara garis besar bersumber pada : a. kemampuan intelektual b masalah-masalah teknis belajar c. lingkungan dan pergaulan social d. harapan dan ambisi orang tua yang tidak sejalan dengan potensi dan kondisi anak. e. ketidak pedulian orang tua atas kegiatan-kegiatan yang diadakan sekolah. 1. Kemampuan intelektual Yang dimaksud dengan kemampuan intelektual adalah daya tangkap dan kemampuan untuk memahami suatu informasi . Secara umum ada orang yang memiliki daya tangkap cepat, dan sebagian yang lain agak lambat ataupun lambat. 2. Masalah-masalah teknis belajar Teknis belajar berhubungan dengan belajar efektif. Hal pertama yang menentukan efektivitas adalah masalah pengaturan waktu belajar, suasana belajar, dan ketrampilam belajar. Masalah teknis ini tidak saja dialami oleh mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar, namun juga oleh mereka yang telah mengenyam di bangku universitas, bahkan bisa jadi juga mereka yang studi S2. Di mulai dari perencanaan jadwal. Telah diketahui oleh umum bahwa belajar yang baik adalah yang rutin, sekalipun sebentar. Namun, diharapkan makin tinggi tingkat sekolahnya , waktu belajarnya juga semakin panjang, karena memang materi-2 yang dipelajari juga makin banyak dan makin komplek. Sebagai gambaran : | Umur | Durasi | Frekuensi | | 4 – 6 th | 15 – 30 menit | 3 – 4 hari /minggu | | 7 – 12 th | 1 – 2 jam | 5 hari/minggu | | 13 – 18 th | 2 – 3 jam | 5 – 6 hari/minggu | Dapat dikatakan bahwa keberhasilan sekolah tergantung pada kebiasaan belajar secara konsisten. Hal penting yang juga harus diingat adalah anak-anak cenderung akan semangat belajar jika pada saat yang sama, seluruh anggota keluarga sedang bekerja atau melakukan sesuatu (bukan ngobrol, nonton tv, bersenda gurau dll) . Untuk itu, masalah jadwal memang perlu dimusyawarahkan. Selain rutinitas dan konsistensi belajar, orang tua juga perlu membantu anak mengembangkan “rencana waktu “ untuk mengerjakan tugas-tugas, utamanya untuk tugas-tugas yang memakan waktu panjang, misalnya mengamati pertumbuhan kecambah dll. Ini penting, karena seringkali anak kesulitan untuk membagi-bagi waktu antara mengerjakan tugas dan belajar rutin. Anak-anak harus menentukan batas waktu penyelesaian setiap bagian tugas sehingga mereka dapat menyelesaikan keseluruhan tugas sesuai deadline-nya. “Perencanaa waktu “ ini sungguh akan membantu anak dikemudian hari jika ia belajar hingga tingkat yang paling tinggi. Karena menurut pengalaman, kesuksesan studi lanjut lebih ditentukan oleh “managemen waktu” daripada kemampuan-2 lain. Adanya rutinitas dan konsistensi belajar serta managemen waktu yang baik dalam suatu keluarga menjadi petunjuk bahwa keluarga tsb sangat menghargai proses keberhasilan sekolah. Selain masalah rutinas dan konsistensi, teknis belajar berkaitan juga dengan Cara memahami hal-hal yang dipelajar, cara mengerjakan soal-soal yang dihadapi, cara menghafal materi-materi, cara mencari referensi materi dll. 3. Masalah lingkungan dan pergaulan social Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orangtua dan orang-orang terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah “perjuangan, nilai-nilai, kebiasaan” yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif (tidak tersadari). Sebagaian ahli menyebut bahwa Pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan fondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluarga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai baru yang rusak. Lingkungan kedua adalah lingkungan masyarakat, atau lingkungan pergaulan anak. Biasanya adalah teman-teman sebaya di lingkungan terdekat. Secara umum anak-anak Indonesia merupakan anak “kampung” yang selalu punya “konco dolanan”. Berbeda dengan anak kota yang sudah sejak dini terasing dari pergaulana karena berada di lingkungan kompleks yang individualistik. Secara umum kita hidup dalam norma masyarakat yang relatif masih baik, meskipun pergeseran-pergeserannya ke arah rapuh semakin kuat. Lingkungan buruk yang sering terjadi di sekitar anak, misalnya: kelompok pengangguran, judi yang di”terima”, perkataan jorok dan kasar, pacaran remaja yang dianggap lumrah, dan dunia hiburan yang tidak mendidik, terkadang berlomba menggoda perhatian anak. Beberapa indikasi pengaruh negative lingkungan yang cukup signifikan terhadap pendidikan antara lain adalah : (1) Acara TV telah menyedot perhatian anak pada jam-jam efektif belajar. Berdasarkan survey bahwa anak-anak usia sekolah dasar perkotaan menghabiskan waktunya 43% untuk menonton acara TV pada jam-jam belajar. Mereka menjadi sasaran produser film dan iklan-iklan consumer good. (2) Anak mulai menyukai kegiatan luar rumah pada jam-jam belajar di rumah dan mengalihkan pada kegiatan non-belajar, seperti: jalan-jalan ke mall, play station, dan tempat nongkrong lain. Berdasarkan penelitian Deteksi Jawapos (Maret 2005) bahwa anak-anak SD sekarang ini mengalami penurunan greget belajar karena memperoleh alternatif mengalihkan perhatian pada (acara TV, hiburan luar ruang, dan jalan-jalan). (3) Anak-anak merasa kesulitan menghafal atau mengerjakan PR secara terus menerus tetapi merasa ketagihan untuk melakukan hal-hal yang tidak berhubungan dengan pencerdasan diri. Berdasarkan pengamatan Prof. Kusdwiratri (Desember, 2004) menurunnya minat intelektual disertai tidak berminatnya pada kegiatan lain yang mencerdaskan anak bukti berhasilnya sistem hiburan. Sulit untuk dipisahkan apakah karena kondisi keluarga atau lingkungan sebaya dan pergaulan. Banyak yang mengalami kesulitan menghadapi anak bukan karena keluarga mereka tidak memberikan kebiasaan yang baik. Demikian juga banyak anak yang tetap dapat menjadi baik justru tumbuh di keluarga yang kurang baik. . 4. Harapan dan ambisi orang tua yang tidak sejalan dengan potensi dan kondisi anak. Atas nama kemajuan zaman, era globalisasi dan informasi yang begitu pesat, persaingan antarmanusia yang juga semakin ketat, kadang-kadang memunculkan kekhawatiran yang cukup beralasan pada para orang tua . Sepintas terasa mengerikan apabila seseorang tidak mempersiapkan diri secara baik dan maksimal sebagai sumber daya yang handal, salah-salah tidak akan kebagian porsi dalam percaturan dunia dan melanjutkan kehidupandi tengah rimba persaingan Orang tua kemudian merasa perlu ikut ambil bagian terbesar dalam menentukan akan jadi apakah anak mereka nanti. Dalam hal ini orang tua bahkan mengklaim sebagai pihak yang paling bertanggung jawab bagi karier dan kesuksesan anaknya. Sehingga orang tua mulai mengarahkan anak-anaknya terhadap suatu profesi tertentu yang diprediksi dapat mendatangkan sukses dan 'kebahagiaan' bagi anak. Orang tua seolah-olah sangat mengerti bahwa profesi tersebutlah yang paling baik untuk anaknya, bahkan apabila anak berusaha untuk mengemukakan keberatan atau penolakan atas anjuran orang tuanya, maka orang tua tak kalah keras berupaya meyakinkan anak, bahwa pilihan anak keliru, sedangkan karier yang telah orang tua pilihkan adalah yang terbaik. Selanjutnya langkah-langkah untuk menciptakan anak agar dapat menjadi 'seseorang' yang berhasil segera ditempuh, antara lain dengan memilihkan jurusan pendidikan yang sesuai dengan tujuan karier yang diharapkan. Padahal, potensi dan kondisi anak yang bersangkutan, tidak mendukung jurusan yang dipilihkan orang tua. Kondisi demikian sudah barang tentu justru akan merusak kebahagian dan semangat belajar anak, dan pada akhirnya prestasi yang gemilang malah terbang di atas awan. Cita-cita selalu berupa cita-cita saja. Lantas apa yang mesti dilakukan orang tua untuk menjembatani kekhawatirannya dan merealisir cita-cita anak? Sesungguhnya peran keluarga, terutama orang tua di dalam membantu karier anak bukan terletak pada bidang karier apakah yang sesuai dan paling baik bagi anak, Orang tua justru sangat berperan dalam menciptakan atmosfir dan paradigma hidup anak sehingga ia akan memilih sendiri karier yang disukai dan dirasa cocok. Orang tua bisa melibatkan orang lain yang dirasa tahu tentang potensi dan kondisi anak, sebelum proses formal pencapaian cita-cita dilakukan. Secara konkrit, musyawarah, cari tahu tentang potensi dan kondisi anak melalui orang lain, sedini mungkin sering-sering memperkenalkan berbagai profesi yang mungkin dikembangkan anak, adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua. 5. Ketidak pedulian orang tua atas kegiatan-kegiatan yang diadakan sekolah. Dengan alasan sibuk, perbedaan pola sekolah jaman dulu dan sekarang, banyak orang tua yang tidak mau tahu atas kegiatan-kegiatan yang diadakan sekolah. Tidak sedikit orang tua yang tahunya mengambil raport saja. Ketidak pedulian orang tua terhadap berbagai kegiatan sekolah, akan ditangkap sebagai “sikap negative” orang tua terhadap pendidikan oleh anak-anak. Lebih jauh anak bisa jadi menganggap bahwa “sekolah” bukanhal penting bagi orang tuanya. Kemauan orang tua melibatkan diri dalam sekolah dengan membuat komunikasi yang baik dengan personel sekolah, merupakan hal penting untuk membantu anak agar berhasil. Caranya, bisa menghadiri pertemuan orang tua dan guru sesering mungkin, bergabung dengan komite sekolah, menghadiri acara-acara non akademik yang diadakan sekolah seperti ulang tahun sekolah, apresiasi seni, bazaar, pasar murah , menjadi sukarelawan untuk membantu kegiatan tertentu dll. Penutup Pendidikan yang baik adalah hadiah yang dapat kita berikan kepada anak, selama hidupnya. Ia tidak pernah kehilangan nilai sebagaimana hadiah-hadiah bendawi laninnya... Arwana, 16 Mei 2009 |